Bukan "Telmi", Anak Indonesia Dinilai Terkendala Pengajaran, Profesor Stella Christie Minta Lupakan Tes IQ
Bukan "Telmi", Anak Indonesia Dinilai Terkendala Pengajaran, Profesor Stella Christie Minta Lupakan Tes IQ
JAKARTA, METRO TV – Stigma mengenai rendahnya kecerdasan anak-anak Indonesia, yang diperparah dengan hasil survei PISA mengenai kemampuan matematika yang berada di urutan ke-63 atau 65, dibantah keras oleh ahli kognitif, Profesor Stella Christie. Menurutnya, anggapan bahwa anak Indonesia bodoh atau memiliki IQ rendah sama sekali tidak berdasar.
Penegasan ini disampaikan oleh Profesor Stella Christie, seorang ilmuwan, saat menjadi narasumber dalam tayangan Podcast KICK ANDY yang diunggah oleh kanal METRO TV.
Bantahan Anggapan IQ Rendah
Profesor Stella Christie menegaskan bahwa kemampuan anak-anak yang terlihat rendah, misalnya saat kesulitan menjawab soal matematika sederhana seperti 5x3, bukanlah disebabkan oleh faktor kecerdasan atau IQ yang rendah.
"Itu bukan karena mereka iq-nya rendah, bukan karena mereka bodoh, tetapi karena mereka tidak mendapatkan pengajaran yang baik," ujar Profesor Stella Christie [04:41].
Beliau dengan tegas menolak narasi yang sering beredar mengenai IQ rata-rata orang Indonesia yang dinilai rendah, bahkan membandingkannya dengan simpanse. Menurutnya, fokus berlebihan pada IQ yang dianggap "tetap" (fixed) sangat berbahaya karena dapat menghambat perkembangan.
Subjek (S): Pembicaraan terus-menerus tentang IQ
Predikat (P): Menjadi bahaya dan menyebabkan
Objek (O): Anak dan lingkungan memiliki fixed mindset
Keterangan (K): Karena menganggap kepintaran tidak bisa berubah [04:12].
Sikap fixed mindset atau pola pikir tetap ini, di mana kepintaran dianggap berasal dari genetik dan tidak bisa berkembang, menjadi masalah mendasar. Berdasarkan penelitian OECD terbaru, Indonesia memiliki growth mindset (pola pikir berkembang) yang sangat rendah atau, sebaliknya, fixed mindset yang tinggi [06:17].
Sangat disayangkan, pandangan ini juga dipengaruhi oleh harapan guru dan orang tua. Jika guru memiliki harapan rendah karena menganggap IQ anak sudah rendah, maka proses belajar anak akan terhambat [06:43].
Solusi: Kembangkan Growth Mindset dan Belajar Melalui Bermain
Untuk mengatasi masalah ini, Profesor Stella Christie menganjurkan agar masyarakat Indonesia, terutama tenaga pendidik dan orang tua, segera melupakan tes IQ dan beralih fokus pada growth mindset [07:35].
Pola pikir berkembang (growth mindset) meyakini bahwa kepintaran selalu dapat ditingkatkan melalui belajar, banyak bertanya, dan membaca [05:40].
Salah satu sarana terbaik untuk menumbuhkan kemampuan dasar anak adalah melalui bermain. Beliau menjelaskan bahwa bermain adalah proses evolusi penting yang memiliki manfaat besar bagi perkembangan otak.
Subjek (S): Waktu bermain anak-anak
Predikat (P): Mempersiapkan mereka untuk
Objek (O): Menghadapi hidup dan memiliki problem solving skill
Keterangan (K): Dengan mengajarkan adaptasi, negosiasi, dan memecahkan masalah [10:17], [11:49].
Profesor Stella menyarankan orang tua untuk menerapkan konsep "Guided Play" (Bermain Terpandu). Melalui bermain bersama anak (misalnya menyusun puzzle), orang tua dapat mengajukan pertanyaan yang memicu pemikiran, seperti menanyakan tentang bentuk atau sudut, untuk menambah pengetahuan anak tanpa memaksa [12:14].
Dengan meninggalkan stigma IQ dan berfokus pada kualitas pengajaran serta peran penting bermain dalam perkembangan otak, potensi kecerdasan anak Indonesia diyakini dapat berkembang maksimal.
Podcast: Anak Sekarang Lebih 'Telmi' Ketimbang Anak Zaman Dulu? #KICKANDY
Komentar
Posting Komentar