Cerita Singkat Kuliah Wawancara, 18 September 2025
Cerita Singkat Kuliah Wawancara, 18 September 2025
Kuliah hari itu, 18 September 2025, materinya fokus banget soal seni wawancara. Intinya sih, wawancara itu bukan sekadar ngobrol atau ngumpulin data, tapi harus jadi proses konfirmasi yang matang.
Dosen ngejelasin, peran kita sebagai pewawancara itu lumayan kompleks. Kita harus bisa mendengarkan sambil mengamati bahasa tubuh, ekspresi, dan bahkan suara narasumber. Penting juga buat menyelidiki kalau ada yang terasa janggal, dan harus cepat menanggapi omongan mereka. Poin kunci yang diulang-ulang: catat! Jangan cuma andelin rekaman atau video doang. Sampai gerakan kecil yang gak sadar atau "Habitus Fisik" narasumber juga harus kita pantau, biar gak kehilangan makna.
Kami juga dapet to-do list sebelum wawancara. Persiapan non-teknis itu wajib banget: pelajari dulu orangnya dan topik yang mau dibahas. Intinya, jangan sampai kita datang tanpa modal ilmu. Baru setelah itu urusan teknis kayak bawa bolpen, catatan, dan alat rekam.
Menariknya, kami juga belajar kenapa sih orang suka males diwawancarai. Alasannya macem-macem: bisa karena masalah waktu, takut mempermalukan diri, khawatir soal keamanan, atau bahkan karena mereka "O'ra ngerti" (gak paham) topiknya. Jadi, kita juga harus pinter-pinter pilih narasumber yang bisa diakses, bisa dipercaya, dan bertanggung jawab atas omongannya.
Yang paling bikin mikir, di akhir materi disinggung kutipan filosofis dari Socrates yang bilang kalau hidup tanpa perenungan itu kayak robot atau mesin. Seolah ngingetin kita, jadi pewawancara juga gak boleh asal jalan, harus ada makna dan refleksi di setiap prosesnya.
Komentar
Posting Komentar